|
Aku bertanya kepada ayahku dan Abu Zur`ah radhiyallahu `anhuma tentang madzhab Ahlus Sunnah dalam masalah ushuluddin (pokok-pokok agama) juga tentang pemahaman para ulama di berbagai kota yang mereka berdua ketahui, serta apa saja yang mereka berdua yakini. Maka, keduanya berkata: Kami telah berjumpa dengan para ulama di seluruh kota baik di Hijaz, Irak, Mesir, Syam, maupun Yaman, maka di antara madzhab yang mereka anut adalah, - Imam itu berupa perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.
- Al-Qur`an adalah kalam Allah dan bukan makhluk, dalam segala aspeknya.
- Takdir yang baik maupun yang buruk adalah dari Allah `Azza wa Jalla.
- Di kalangan ummat ini, sebaik-baik orang setelah nabi mereka adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq, kemudian Umar bin Al-Khaththab, lalu Utsman bin Affan, lalu Ali bin Abi Thalib -semoga Allah meridhai mereka semua-. Mereka Khulafaur Rasyidun Al-Mahdiyun para khalifah yang berpegang teguh kepada agama dan mengikuti kebenaran.
- Bahwa sepuluh sahabat yang disebut dan dinyatakan oleh Rasulullah -semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepadanya-, masuk jannah, mereka itu sesuai dengan pernyataan beliau dan perkataan beliau itu benar.
- Memintakan rahmat bagi seluruh sahabat serta keluarga nabi Muhammad-semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepadanya-, sertamenahan pembicaraan dari perselisihan yang terjadi di antara mereka.
- Bahwa Allah `Azza wa Jalla berada di atas `Arsy-Nya, terpisah dari seluruh makhluk-Nya, sebagaimana sifat yang diinformasikan-Nya dalam kitab-Nya melalui lisan Rasul-Nya -semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepadanya-, tanpa diketahui kaif (bagaimana) nya. IlmuNya meliputi segala sesuatu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
- Allah Tabaraka wa Ta`ala akan dapat dilihat di akhirat. Segenap penduduk jannah akan melihat-Nya dengan mata kepala mereka. Allah berbicara, sebagaimana Dia berkehendak.
- Jannah adalah benar dan neraka adalah benar (adanya). Keduanya adalah makhluk yang kekal abada. Jannah adalah balasan bagi para wali-Nya sedangkan neraka adalah hukuman bagi orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya, kecuali yang mendapatkan rahmat-Nya.
- Shirath adalah benar.
- Mizan (timbangan), yang memiliki dua sisi timbangan untuk menimbang amalan para hamba, yang baik maupun yang buruk adalah benar.
- Haudh (telaga) yang dijadikan sebagai penghormatan bagi Nabi -semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepadanya- dan segenap keluarganya adalah benar.
- Syafa`at adalah benar. Dan bahwa sebagaian ahli tauhid keluar dari neraka berkat adanya syafa`at adalah benar.
- Adzab kubur adalah benar.
- Munkar dan Nakir adalah benar.
- Malaikat mulia yang mencatat amal perbuatan manusia adalah benar.
- Kebangkitan setelah mati adalah benar.
- Para pelaku dosa besar berada dalam masyi`ah (kehendak) Allah subhana wa ta`ala. Kita tidak mengkafirkan ahli kiblah disebabkan dosa mereka. Kita menyerahkan urusan batin mereka kepada Allah subhana wa ta`ala.
- Kita melaksanakan kewajiban jihad dan haji bersama imam-imam kaum muslimin, di setiap masa.
- Kita tidak boleh melakukan pembelotan terhadap para imam atau peperangan di masa fitnah.
- Kita mendengar dan mentaati siapa saja yang dijadikan oleh Allah sebagai pemimpin kita. Kita tidak akan melepaskan diri dari ketaatan.
- Kita mengikuti sunnah dan jamaah serta menghindari sikap menyimpang, perselisihan, dan perpecahan.
- Jihad berlaku semenjak Allah mengutus nabiNya -semoga Allah memberikan shalawat dan salam kepadanya- hingga terjadinya hari kiamat, bermasa imam-imam kaum muslimin, tanpa ada sesuatupun yang menghapuskannya.
- Demikian pula haji.
- Begitu pula pembayaran zakat saimah kepada imam kaum muslimin yang menjadi pemimpin bagi kita.
- Pada aslinya manusia secara umum digolongkan mukmin berdasarkan hukum-hukum dan pewarisan, adapun hakekat keimanan maka di sisi Allah tidaklah diketahui. Barangsiapa yang berkata bahwa ia seorang mukmin sejati, maka ia adalah orang yang berbuat bid`ah. Barangsiapa yang berkata bahwa ia adalah orang yang mukmin di sisi Allah, maka ia termasuk pendusta. Sedangkan orang yang mengatakan saya beriman kepada Allah, maka yang dilakukannya itu benar.
- Kaum murji`ah adalah kaum yang berbuat bid`ah dan tersesat.
- Kaum qadariah adalah kaum yang berbuat bid`ah dan tersesat. Barangsiapa di antara mereka yang menyatakan bahwa Allah Ta`ala tidak mengetahui apa yang akan terjadi sebelum terjadinya, maka ia kafir.
- Kaum Jahmiyah adalah kafir.
- Kaum rafidhah adalah kaum yang menolak Islam.
- Kaum khawarij adalah kaum yang meluncur keluar dari agama.
- Barangsiapa menyatakan bahwa Al-Qur`an itu makhluk, maka ia orang yang kafir kepada Allah Yang Maha Agung; dengan kekafiran yang mengeluarkannya dari millah. Barangsiapa yang faham tetapi meragukan kekafirannya, maka ia kafir.
- Barangsiapa yang ragu terhadap kalam Allah `Azza wa Jalla, bimbang mengenainya dan mengatakan, saya tidak tahu apakah makhluk ataukah bukan makhluk, maka ia orang yang berfaham jahmiyah.
- Orang yang bimbang mengenai Al-Qur`an dikarenakan kebodohan, maka musti diajari dan dibid`ahkan, tetapi tidak dikafirkan.
- Barangsiapa yang mengatakan Bacaan Al-Qur`an-ku adalah makhluk atau Al-Qur`an dengan bacaanku adalah makhluk maka ia adalah orang yang berfaham jahmiyah. Syaikh Abu Thalib berkata: Ibrahim bin Umar berkata: Ali bin Abdul Aziz berkata: Abu Muhammad berkata: Saya mendengar ayahku -semoga Allah meridhainya- berkata:
- Tanda-tanda ahli bid`ah adalah mengumpat ahlul atsar (orang-orang yang berpegang teguh kepada sunnah. Pent)
- Tanda-tanda orang zindiq adalah mereka menyebut ahlul atsar sebagai kaum hasywiyah, karena ingin menghapuskan sunnah.
- Tanda-tanda kaum jahmiyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum musyabbihah.
- Tanda-tanda kaum qadariyah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum yang berfaham jabriyah.
- Tanda-tanda kaum murji`ah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum mukhalifah (yang suka mempertentangkan) atau nuqshaniyah (yang suka mengurangi).
- Tanda-tanda kaum rafidhah adalah mereka menyebut ahlus sunnah sebagai kaum tsaniyah.
- Dalam perkara in telah tersesat banyak kelompok (dalam memahami ahlus sunnah), padahal ahlus sunnah hanya menyandang satu nama dan nama-nama ini semua tidak mungkin menyatu (ada) pada mereka.
- Abu Muhammad bercerita kepada kami, katanya:
Dan saya mendengar ayahku dan Abu Zur`ah mengisolasi orang yang memiliki pemahaman yang menyimpang dan melakukan bid`ah, menyalahkan pendapat mereka dengan keras, menolak penulisan buku-buku dengan pendapat tanpa berdasarkan atsar, melarang berteman dengan ahli kalam atau membaca buku-buku mutakallimin, serta berkata: Penganut ilmu kalam tidak akan beruntung selamanya.
Telah saya sampaikan semuanya, dan segala puji bagi Allah Rabb semua alam, semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad -shalallahu `alaihi wasallam- dan para keluarganya. Akhir Kitab I`tiqaduddin.
Dikutip dari buku: Kitab Ashlussunnah, Abi Hatim Ar-Razi (240-327 H). Penerbit: Darussunnah-Solo, cetakan pertama Mei 1998. Penerjemah: Hawin Murtadha. Catatan kaki di dalam buku tersebut tidak diikutkan dalam artikel ini. Apabila ingin mengetahuinya, silakan membaca buku tersebut.
|